Posted by aant on May 29, '08 11:19 PM for everyone “Jika Hiu itu manusia, apakah mereka akan bersikap lebih ramah pada ikan-ikan kecil?” Tanya gadis kecil pada pak Kumis. “Tentu saja”, jawab pak Kumis. “Jika hiu itu manusia, mereka akan membangun kotak-kotak yang kukuh untuk tempat ikan-ikan kecil di dalam laut. Di dalam kotak itu akan ditaruh berbagai jenis makanan, tanaman-tanaman serta hewan-hewan kecil juga. Ikan hiu akan menjaga agar kotak-kotak itu senantiasa berisi air yang segar, dan menjaga agar kesehatan selalu terjamin. Bila umpamanya ada seekor ikan kecil yang terluka siripnya, maka segera akan dibalut agar ia jangan sampai mati sebelum saatnya tiba. Supaya ikan-ikan kecil tidak murung, secara berkala akan diselenggarakan pesta air meriah; karena ikan yang berbahagia rasanya lebih enak daripada ikan yang dirundung duka lara. Tentu juga akan ada sekolah-sekolah di dalam kotak-kotak itu. Di sana, ikan-ikan kecil akan belajar bagaimana cara berenang menuju mulut ikan hiu. Mata pelajaran seperti geografi juga akan diberikan agar mereka dapat mencari di mana sang hiu berada, yang mungkin sedang bermalas-malas di suatu tempat. Mata pelajaran utama pastilah pendidikan-moral-ikan-kecil. Kepada mereka akan diajarkan bahwa hal yang paling mulia dan paling indah ialah apabila ikan kecil bersedia dan rela berkorban dan tabah, dan bahwa mereka semua harus percaya kepada ikan hiu, terutama janji ikan hiu untuk memberikan masa depan yang geilang gemilang. Hiu akan mengajarkan bahwa masa depan yang diidam-idamkan itu hanya akan tercapai bila mereka bersedia untuk patuh. Mereka mesti menghindari semua kecendrungan yang rendah, matrialistis dan Marxis, dan segera memberitahu kepada hiu jika ada di antara mereka yang menujukkan tanda-tanda mempunyai kecendrungan seperti itu. Jika Hiu itu manusia, tentu akan ada juga kesenian. Akan ada lukisan-lukisan gigi hiu yang bagus-bagus. Teater dasar laut akan menyajikan pertujukan yang mengisahkan ikan-ikan kecil secara heroik berenang dengan semangat 45 masuk ke kerongkongan ikan hiu. Musik juga begitu merdunya. Grub Rock n Roll bawah laut akan melantunkan lagu hitnya: hiu juga manusia, punya rasa punya hati... Lagu-lagu ruhani juga berkumandang merdu menedayu, membimbing ikan-ikan kecil dengan penuh hasrat menuju tempat-tempat peribadatan, dan dibekali dengan ajaran-ajaran luhur, mereka akan berduyun-duyun masuk ke dalam tenggorokkan hiu. Pasti akan ada kepercayaan untuk dianut. Akan diajarkan bahwa hidup yang sesungguhnya baru dimulai di dalam perut hiu. Jika hiu itu manusia, maka ikan-ikan kecil tidak lagi, sebagaimana keadaan mereka sekarang, berkedudukan sederajat. Beberapa dari mereka akan diberi kedudukan di kantor-kantor dan diberi jabatan lebih tinggi dari lainnya. Ikan-ikan yang sedikit lebih besar malah akan diijinkan untuk memangsa saudaranya yang lebih kecil. Itu akan sangat menyenangkan bagi hiu, karena dengan bigitu para hiu akan lebih sering memperoleh kudapan yang lebih gemuk untuk dilahap. Hal paling penting bagi ikan-ikan kecil, yaitu bagi mereka yang berkedudukan di kantor-kantor, mereka harus selalu menjaga perngadaan ikan-ikan kecil untuk dididik menjadi guru, dokter, insinyur perancang kotak, dsb. Singkat kata, akan ada kebudayaan di dalam laut jika hiu itu manusia”. (adts. bertolt brecht)
Posted by aant on May 29, '08 2:31 AM for everyone Kenaikan harga BBM sebenarnya merupakan satu bagian kecil dari upaya liberalisasi sektor migas di negeri ini. Lebih dari 40 perusahaan migas asing sudah mengantongi izin untuk membuka 20.000 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh Indonesia, dengan harga standar internasional.
Berikut ini perbincangan (dicuplik dari millis IRE)dengan Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada Drs. Revrisond Baswir, M.B.A, yang ditemui dalam Seminar Peringatan Hari Lahir Pancasila, di Gedung DPR, Jakarta. Berikut petikannya:
* Kenaikan BBM ini kedepannya akan berdampak seperti apa?
* Untuk mengetahui dampak kenaikan harga BBM, kita harus tahu persis latar belakang dan motivasi. Kalau menurut pemerintah, latar belakangnya apakah untuk mengoreksi yang tidak tepat sasaran, untuk menghemat konsumsi BBM, termasuk untuk menghindari penyelundupan dan sebagainya. Saya kira itu alasan yang dicari-cari, bukan penjelasan namun justru mengaburkan dari motif sebenarnya. Alasan yang sebenarnya adalah sejak pemerintah menandatanganani LOI 1998 di mana kita tunduk pada IMF untuk melepas harga BBM ke harga internasional. Ini sebenarnya bukan soal kenaikan, tapi soal proses bertahap melepas harga BBM ke harga pasar sesuai garis IMF, dan itu sudah difollow up oleh pemerintah yang sejak 1999 sudah membuat draft UU Migas yang baru, tapi pada waktu itu bentrok dengan Pertamina.
Lalu pada tahun 2000, Amerika masuk lewat USAID menyediakan utang untuk memulai proses liberalisasi sektor migas itu. Salah satu yang dikerjakan USAID dalam rangka liberalisasi itu adalah menyiapkan draft UU yang baru, bekerjasama dengan IDB dan World Bank menyiapkan reformasi sektor energi secara keseluruhan. Dalam UU Migas jelas, pasal 28 ayat 2 UU migas mengatakan harga BBM dilepas ke mekanisme pasar, sudah jelas itu.
Yang jadi masalah kemudian, segera setelah UU Migas keluar, pemerintah segera membuka izin bagi perusahaan-perusaha an asing untuk masuk ke berbagai tahap dalam proses migas di tanah air, mulai dari hulu sampai ke hilir. Dan bahkan mereka mengendalikan izin untuk perusahaan asing untuk membuka SPBU, sampai lebih dari 40 perusahaan yang sudah pegang izin untuk membuka SPBU itu. Masing-masing perusahaan diberi kesempatan membuka sekitar 20.000 SPBU di seluruh Indonesia. Target mereka sebenarnya pada 2005 harga BBM sudah bisa dilepas ke pasar, hanya saja di tengah jalan UU migas dibawa ke Mahmakah Konstitusi (MK) oleh serikat pekerja pertamina, disidangkan di MK. Dan pasal 28 tentang pelepasan harga ke pasar itu dibatalkan MK, karena bertentangan dengan konstitusi. Itu sebenarnya yang menggganjal.
Masalahnya mereka kan tidak mau menyerah, setelah dinyatakan UU itu bertentangan dengan konstitusi, mereka jalan terus dengan istilah baru, dari istilah harga pasar menjadi "harga keekonomian" , itu hanya untuk berkelit saja. Karena harga pasar dilarang MK, maka ganti yang lain, tetapi maksudnya sama.
Isu yang tepat dalam kasus ini adalah liberalisasi sektor migas dan pelepasan harga BBM ke harga pasar. Jadi kalau kita lihat, setelah rencana itu gagal tahun 2005, dan muncul istilah harga keekonomian. Maka kini target pemerintah sesuai dengan apa yang diakatakan oleh Pak Budiono (Menko Perekonomian, dulu), setelah naik pada 24 Mei kemarin, diperkirakan pada September 2008 akan naik lagi secara bertahap, sampai ditargetkan selambat-lambatnya 2009 sudah sesuai dengan harga pasar minyak dunia. Sama dengan patokan di New York, kalau dieceran mencapai Rp 12.000 per liter.
* Keuntungan apa yang akan diambil dari kebijakan melepas harga BBM ke pasar?
* Bukan itu isunya. Isunya hanya dengan melepas harga BBM ke pasar, hanya dengan cara itu SPBU-SPBU asing itu mau beroperasi di sini. Kalau harga bersubsidi bagaimana SPBU asing bisa beroperasi dan bersaing dengan Pertamina, ini masalahnya. Masalahnya soal menangkap peluang investasi. Ada perusahaan asing ingin membuka SPBU asing, berarti SPBU asing ini mau melakukan investasi, tetapi SPBU asing hanya bisa jualan BBM, kalau BBM-nya sesuai dengan harga pasar. Jadi masalah ini saja, soal pasar. Pengakhiran monopoli Pertamina, pembukaan peluang bagi asing untuk berbisnis eceran BBM, dan seterusnya.
* Seperti sekarang ini Petronas dan Shell sudah membuka SPBU-nya?
* Makanya akibat kenaikan BBM tahun 2005, Shell buka, Petronas juga buka. Tapi apakah masuk akal kalau orang membuka SPBU itu hanya Jabotabek saja, gak mungkinkan, izin yang mereka peroleh, mereka boleh buka 20.000 SPBU di seluruh Indonesia, nah ada 40 perusahaan lebih yang punya izin. Bisa dibayangkan, berapa banyak SPBU yang akan berdiri, dan bukan hanya Jabodetabek, tapi juga seluruh Indonesia.
Pertamina sendirisudah memperkirakan hanya akan mampu menjual maksimal 50 persen saja, 50 persennya akan diambil oleh SPBU-SPBU asing itu. Nah kalau 2009 dilepas ke pasar, rencana terakhir pemerintah adalah bahwa sektor swasta bisa masuk ke bisnis eceran migas dilakukan secara penuh baru pada tahun 2010. Jadi bukan masalah BBM naik, kemiskinan, BLT, bukan isu itu, tapi mereka menganggap ini hanya dampak saja. Lalu kemudian bagaimana dampak itu diperlunak. Tetap saja mereka akan jalan terus dengan agendanya, bagaimana membuat sektor migas hingga terpenuhi sesuai harga pasar.
Saya kira isu lifting tidak relevan, karena ini isunya bukan naiknya berapa persen, bukan itu. Isunya adalah soal melepas harga itu, jadi pemerintah ingin lepas tangan dari urusan harga BBM. Dia gak mau mengatur mau naik, mau gak naik, dia mau lepaskan, jadi isu lifting menjadi tidak penting. Apalagi kalau SPBU beroperasi di sini, gak penting lagi, sumber migasnya darimana, mau impor 100 persen, ya boleh. Itu dia, justru itu malah mengaburkan masalah dari pokok masalah kita.
* Masalah ini sekarang sudah mulai masuk ke ranah politik, ada wacana mengimpeach Presiden. Bagaimana ini? * Soal pemakzulan Presiden, kalau kita bicara UU migas, kemudian UU Kelistrikan, kemudian UU APBN, yang terkait dengan subsidi dan lain-lain itu kan atas persetujuan DPR, jadi proses liberalisasi ini juga berlangsung atas persetujuan DPR. Kalau akan dimakzulkan bukan saja Presiden, tapi juga DPR-nya juga dimakzulkan.
Dan itu terbukti di MK, jadi yang melanggar konstitusi bukan hanya pemerintah, tapi juga DPR. Inilah yang menjadi problem sekarang, jadi secara politik masalah ini sangat kompleks, karena belum ada aturan, bagaimana apabila pelanggaran konstitusi dilakukan Presiden dan DPR. Nah ini tidak ada UU-nya, saya sudah menanyakan hal ini kepada hakim agung, celakanya pelanggaran konstitusi ini tidak hanya sekali. UU Listrik batal demi hukum, karena melanggar konstitusi, UU Migas pasal mengenai harga pasar batal karena melanggar konstitusi, UU Penanaman Modal pasal mengenai Hak Guna Usaha karena melanggar konstitusi, UU APBN tiga tahun berturut-turut melanggar konstitusi, ini masalah kita.
* Akar permasalah dari kebijakan melepas BBM ke harga pasar?
* Masalahnya adalah apa yang disebut dengan Neokolonialisme dan Neoliberalisme.
* Solusinya bagaimana?
* Solusinya, kita harus memperteguh kembali komitmen sebagai bangsa terhadap cita-cita proklamasi dan amanat konstitusi, ini harus ditegakan kembali. Setelah ini baru mengoreksi semua penyimpangan- penyimpangan, apakah itu kebijakan, peraturan pemerintah, UU, semua itu harus ditertibkan kembali. Karena menurut perkiraan Ketua Mahmakah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, 27 persen UU melanggar konstitusi, harus dibereskan dulu. Dari situ baru kita lihat dampak turunannya apakah kepada kontrak bagi hasil, harga BBM, harga listrik, dan lain-lain. (novel)
Posted by aant on Sep 27, '07 1:08 AM for everyone tak ada inspirasi hari ini/ kata-kata retak, memantul mantul dalam ruang miskin oksigen/ dan menggurat senyum yang tak pernah menjadi hati, membongkah dalam iklan televisi/
ke mana rimbanya inspirasi ? hanya bau terbakar/ yang menyusup dari masalalu ke masa entah apa
Posted by aant on Aug 28, '07 2:08 AM for everyone Seorang kawan bercerita; pagi ini dia mencoba bangun satujam lebih awal dari bisanya. Harapannya adalah agar dia bisa punya lebih bayak waktu untuk berkatifitas pada hari ini. Kawan ini mencoba untuk lebih rileks menjalani harinya. Seperti biasa dia memulai hari dengan menyeruput secangkir kopi instant, menghisap sebatang sigaret. Akan tetapi apa yang terjadi? Kopi dan sigaret ini terasa tidak senikmat biasanya. Dengan niat mau rileks tadi dia pun mencoba melupakan kejanggalan itu. Dia berjalan-jalan di halaman, melihat bunga-bunga. Aneh bunga-bunga pun terasa tak seindah biasanya. Sekarang hatinya yang mulai terasa tidak enak. Dia melihat anak-anak berangkat sekolah, para tetangga yang berangkat kerja, para pedagang yang berlalu lalang. Sekian banyak manusia pagi itu tak satupun yang dikenalinya. Ini lebih aneh lagi pikirnya. Yah, satu jam lebih awal untuk memulai hari, tapi justru keanehan yang dirasakan! Aku bertanya kepadanya, apakah sebelumnya dia memang selalu merasakan nikmatnya secangkir Kopi, merasakan keindahan bunga-bunga dan menyapa hangat pada tetangga dan anak-anak sekolah? Temanku berfikir sebenatar, lalu menjawab, “ entah ya, sebelum nya aku tak punya waktu untuk memikirkannya” Kemudian kubilang padanya. “ mungkin kita bisa menikmati sesuatu justru ketika kita tidak memikirkannya, tapi …”. Kawan itu langsung menyambung” tapi, tanpa memikirkan sesuatu, perubahan apa yang bisa kita buat?!” Ah, satu jam lebih awal memulai hari, sebentuk pemikiran tercipta. Sebuah pengalaman yang sangat Inspiratif.
Posted by aant on Jul 13, '07 1:15 AM for everyone Tadi malam ada pentas seni anak-anak yang digelar di halaman tugu SO 1 maret Jogjakarta. Acara ini diselenggarakan oleh beberapa lembaga yang bekerja bersama anak-anak di kotaJogja. “Pentas Seni Anak Kampung Jogja Masa Kini” begitulah tajuk acara itu. Berbagai atraksi satu-persatu ditampilkan kelompok anak-anak dari beberapa kampong/komunitas. Ada tarian, nyanian, teater, dolanan anak, dance, bahkan barongsai. Penontonnya pun cukup ramai dan antusias, karena setiap kampung/komunitas membawa supporter masing-masing. Akan tetapi, tiba-tiba saja muncul penampilan yang tidak terduga-duga, dua anak perempuan berusia 10-an tahun bernyani dangdut, membawakan lagu “Sahara”. Yang hebong, aksi panggung anak-anak itu sama persis dengan gaya Trio Macan dan penyanyi dangdut sejenis yang biasa melakukan gerakan sangat erotik. Penonton ada yang heran, terperangah, tapi ada yang larut dalam goyangan sang pedangdut cilik. Panitia acara yang merasa “tidak enak” mengaku “kecolongan” dengan tampilan tersebut… Wah..wah, kayak kasus penari Cakalele di depan SBY nih… hehehe
Posted by aant on Jun 7, '07 2:52 AM for everyone "Kok dongengnya beda dengan yang di buku?", tanya Divka (5 th) ketika menonton sinetron “Dongeng” episode “Putri Salju” yang ditayangkan di Trans TV beberapa waktu lalu. “Bedanya apa?”, aku malah balik bertanya. “Ceritanya bukan pada jaman dahulu kala…” jawab Divka. Sekilas aku memperhatikan layar televisi, mamang cerita sineteron itu diadopsi dari dongeng Putri Salju, tetapi setting dan penokohannya betul-betul jaman sekarang, jauh dari kesan dongeng-dongeng pada umumnya. “ Kalo bukan 'jaman dulu', emang kenapa ?” tanyaku lagi. “ Jaman sekarang kan enggak ada Peri dan Kurcaci” jawab Divka. “Emangnya kalo jaman dulu, Peri dan Kurcaci itu benar-benar ada?” Tanya ku lagi seenaknya. “Ya enggak tau, namanya juga dongeng, Ayah ki piye tho…” jawab Divka, juga seenaknya. Aku ketawa sendiri, tapi terpaksa berfikir juga. Mungkin memang bukan tanpa alasan apabila dongeng-dongeng klasik selalu dimulai dengan “pada jaman dahulu kala”. Artinya hal-hal yang ajaib dan “tidak masuk akal” itu, kalaupun ada, maka itu adalah bagian dari masal lalu, jaman antah barantah yang bahkan “pencipta” dongeng itupun tidak pernah mengalaminya lagi. Dengan begitu ketika membaca atau mendengar dongeng maka orang akan lebih realisitis melihat masa kini. Ada penegasan, seperti yang dikatakan Divka, terserah Kurcaci atau Peri itu ada atau tidak di masal lalu, yang penting jaman sekarang itu tidak ada atau tepatnya tidak relevan lagi untuk dipercaya. Ketika “jaman dahulu kala’ itu dicabut dari dongeng, dan divisualisasikan pula (sehingga kita tidak lagi sekedar mendengar atau membaca dongeng, tapi menonton dongeng) maka Hal-hal ajaib, tahayul dan tidak masuk akal itu benar-benar dihadirkan dan “dianggap ada” di lingkungan kita di masa kini. Kayaknya ini klop dengan kenyataan bahwa sekarang ini kita memang semakin mudah untuk mempercayai hal-hal yang berbau mistik dan gossip.“Mungkin juga Kurcaci, Raksasa dan Peri itu masih ada di jaman sekarang, Div”, kataku kemudian, “… tapi hanya ada di dalam tivi”. Divka berfikir sejenak, lalu mengangguk setuju. Lalu kami sepakat untuk meneruskan nonton tayangan tersebut.
Posted by aant on Jun 4, '07 12:41 AM for everyone Namanya Chairul Anwar, umur belum lagi empat tahun. Tapi dia sudah merasakan panasnya peluru tajam milik anggota marinir yang menyerbu desa mereka Alas Tlogo, hari Kamis 31 Mei yang lalu. Entah apa yang kini terlintas dalam benak anak yang sedang sekarat itu. Mungkin dia tidak memikirkan apa-apa, bahkan mengertipun tidak tentang benda yang kini bersarang di dada kirinya yang membuat dia sesak nafas dan nyeri ketika harus menggerakan tubuh sedikit saja. Yah, Apalagi berfikir tentang sengketa tanah yang melibatkan tentara brutal itu. Aku membayangkan, pada usia segitu, ketika sedang sakit aku sering berfikir tentang SuperHero. Mungkin kini Chailrul Anwar juga sedang bermimpi tentang salah satu Superhero idolanya. SuperHero memang gampang diingat karena mereka selalu mengenakan kostum menarik bergaya “futuristik” dengan warna-marna kuat dan tajam, yang mengesankan kegagahan. Selain itu, setiap superhero selalu memiliki logo yang khas, seperti stempel yang mensahkan keberadaan mereka. Waktu aku seusia Chairul Anwar, aku sempat membayangkan bahwa tentara yang berseragam tempur itu mirip superhero juga. Dengan kostum dan logo tersebut, superhero ingin menampilkan sekaligus menyembunyikan sesuatu ke khalayak. Yang ingin mereka tampilkan bahwa sebagai superhero mereka adalah pembela kaum lemah, sementara yang ingin mereka sembunyikan adalah bahwa sebenarnya mereka pun memiliki “masalah pribadi”, sama seperti kaum lemah yang dibela itu. Batman memiliki trauma masa kecil dan sebenarnya sangat takut pada kelelawar. Spiderman punya masalah dengan sahabat yang kemudian menjadi musuh besarnya. Dan yang selalu ada dalam setiap kisah super hero, mereka mencintai seorang perempuan! Ini sangat pribadi dan menjadi serba pelik karena sangat berpengaruh pada tugas-tugas ke-superhero-an mereka yang harus terbungkus topeng itu. Akan tetapi, apakah sebenarnya “masalah pribadi” tentara-tentara yang menyerbu Alas Tlogo itu? Sebesar apakah kepentingan “pribadi” kesatuan mereka sehingga mereka harus membunuh orang-orang lemah yang seharusnya dilindungi itu? Sulit memang untuk mengharapkan tentara-tentara untuk mau berfikir tentang hal itu. Semoga Chairul Anwar cepat sembuh, dan aku yakin pengalaman ini kelak akan membuat dia dan banyak orang akan berfikir tentang banyak hal.
Posted by aant on Jun 1, '07 12:14 AM for everyone Odong-odang, begitulah orang-orang menyebut alat bermain anak-anak ini. Sebenarnya alat ini adalah sebuah becak yang di modifikasi, di mana tempat duduk penumpangnya dirombak sedemikian rupa dengan diganti empat buah motor-motoran atau mobil-mobilan kecil. Setiap motor-motoran atau mobil-mobilan itu dibagian bawahnya ada semacam poros yang terhubung dengan gigi roda yang digerakkan oleh rantai yang terhubung dengan pedal becak. Dengan demikian, motor-motoran itu dapat begoyang berlahan naik turun seiring kenjotan si Bapak tukang odong-odong. Alat ini juga dilengkapi dengan tape recorder yang mengalunkan lagu-lagu anak-anak. Satu kali durasi lagu menandakan permainan selesai, dengan ongkos satu putaran Rp 500,-.
Akan tetapi Hydra seringkali mendapat diskon dari si Bapak tukang odong-odong. Kadang-kadang hanya dengan membayar 1000, Hydra bisa naik odong-odong sampai empat lagu, mungkin karena sudah langganan, karena odong-odong ini paling sedikit dua kali dalam seminggu datang ke kompleks perumahan kami di Minomartani
Posted by aant on May 30, '07 12:37 AM for everyone
Redyadivka Ariarafa lahir tanggal 21 Februari 2002 di Yogyakarta. Proses kelahirannya dibantu oleh teteh Ured, kakaknya istriku yang juga seorang bidan. Menurut istriku, dia akan lebih merasa tenteram apabila porses melahirkan yang pertama ini ditangani oleh tetehnya sendiri. Aku sih setuju-setuju saja, soal ukuran ketentraman itu memang terserah istriku, lagi pula itung-itung bisa iritlah, “hemat hingga sembilan puluh persen” he he eh. Sejak usia beberapa bulan, anak pertama kami ini terlihat sangat aktif, hampir tidak pernah diam. Sedang tidurpun selalu menggeliat (ngolet, kata orang jawa) atau menendang-nendang kesana-kemari. Sebagai orang tua yang belum berpengalaman, kami mengkuatirkan hal ini. Oleh karena itu pada usia 1 tahun lebih Divka kami bawa ke bagian tumbuh-kembang anak di RS Sarjito untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan ternyata Divka normal-normal saja, hanya memang tergolong High Activity, jadi bukan Hyperactivity. Gejala Hyperaktiv seperti menghindari kontak mata dan kesulitan berbicara tidak ditemui pada kasus Divka. Kata dokter, untuk anak-anak yang tergolong aktifitas tinggi sebaiknya sering-sering saja diajak ke tempat-tempat yang luas, seperti lapangan sepak bola, dan biarkan dia berekspresi atau melakukan apa saja di sana asal tetap diawasi. Divka memang sangat suka aktivitas “out dor” dan “treveling”. Di suka mancing dan main laying-layang, atau bersepeda. Padahal, selain bersepada, aktiftias tersebut bukan hobiku sama sekali. Tapi karena harus menemani Divka, lama-lama aku jadi suka juga. Dalam sejarah memancing kami, kami berdua belum pernah mendapat ikan samasekali, tapi kami selalu puas kalau umpan yang kami bawa sudah habis. Kalu lagi bosan dengan semua kegiatan, sering kali kami berdua cuma putar-putar Jogja dengan sepeda motor. Kalau diajak jalan-jalan pasti tidak ada capeknya, dan sepanjang perjalanan dia selalu ngoceh mengomentari atau bertanya tentang sesuatu yang dilihat di perjalanan. Divka sudah beberapa kali aku ajak ke luar kota. Kendaraan faforitnya adalah Kereta Api. (pernah dia bilang bercita-cita jadi Mesinis, tetapi sekarang mau jadi pemadam kebakaran). Divka sudah pernah ke Bandung, Semarang, Kediri, dan tentu saja beberapa kali ke rumah neneknya di Subang. Aku sering kewalahan kalau bepergian dengan Divka. Kandang-kadang aku sudah sangat capek atau ngantuk diperjalanan, tetapi Divka tetap saja ngajak ngobrol.
Posted by aant on May 30, '07 12:35 AM for everyone Sewaktu mengandung anak kedua kami, istriku sempat di USG beberapa kali. Dokter yang menanganinya menyatakan bahwa calon bayi tersebut berjenis kelamin perempuan, dan akan lahir pada tanggal 9 Februari 2005. Seorang Paranormal yang ketemu secara kebetulan, juga meramalkan hal yang sama. Aku rasa, istriku sangat senang dengan pernyataan dan ramalan itu, sebab sepertinya dia memang mendambakan anak ke dua ini berjenis kelamin perempuan, sebab anak kami yang pertama laki-laki. Aku sendiri tidak terlalu berharap soal jenis kelamin, bukannya tidak percaya teknologi atau klenik, melainkan karena aku masih terngiang kata-kata yang jaman dulu sering diucapkan oleh Soeharto “laki-laki atau perempuan sama saja…” Ya, hanya kalimat itu yang sungguh aku ingat dan percaya dari mantan presiden yang satu ini. Meski begitu, aku kemudian memang menyiapkan nama anak perempuan buat anak kedua kami itu. Nama yang aku pilih adalah “Lava Meravi” Bagiku, dari rasa bahasanya, nama ini terdengar cukup feminim, tetapi dari maknanya terasa maskulin. Aktivitas gunung Merapi yang kala itu sedang aktif memang menjadi inspirasi untuk menemukan nama tersebut. Selain itu aku juga menyiapkan alternative nama yang lain yakni “Nyala Rinjani”, pertimbangannya hampir sama dengan nama yang pertama, hanya saja inspirasi Rinjani aku dapatkan ketika akau sempat ke Pulau Lombok pada fase tigabulan pertama Hydra dalam kandungan. Tanggal 8 februari 2005, sekitar jam 23.30, istriku merasa bayi kami akan segera lahir. Bergegas kami berdua menuju RSI Condongcatur, yang berjarak hanya kurang lebih 2 km dari kediaman kami di Minomartani. Waktu itu, mertuaku yang tinggal di Jawa barat juga sudah ada di rumah kami beberapa hari yang lalu dalam rangka menyongsong kelahiran cucunya itu. Akan tetapi sang mertua terpaksa tidak bisa langsung ikut ke rumah sakit saat itu karena harus menunggui anak pertama kami Divka yang sedang tertidur pulas di rumah. Pukul 02.20 tanggal 9 Februari 2005, lahirlah si jabang bayi, secar normal dan sehat dengan berat 3,2 kg, dan berjenis kelamin Laki-laki! Hari lahir Hydra, dalam penanggalan Arab adalah hari terakhir untuk tahun Hijriah, tetapi dalam penanggalan Cina bertepatan dengan hari pertama tahun baru atau Imlek. Menurut beberapa orang tetangga, itu adalah hari yang baik. Memang tetangga kami besar sekali perhatiannya pada kelahiran Hydra. Beberapa Ibu-ibu dengan antusias memberi masukan tentang bagai mana cara memperlakukan ari-ari. Ari-ari itu dibersihkan dengan air, lalu di masukan kedalam wadah dari tembikar, di dalamnya dimasukan pula garam, jarum, pensil, dan beberapa pernik lain, lalu dikuburkan di halaman belakang. Pada malam hari tempat ari-ari dikebumikan itu diterangi lampu. Aku dan istriku tidak terlau mengerti makna dalam perlakuan tersebut, maklumlah kami bukan orang Jawa dan sebenarnya tidak terlalu konsern serta belum banyak pengalaman untuk hal-hal yang beginian. Kami hanya menuruti saja saran dan inisiatif para tetangga, terutama ibu-ibu. Mereka juga yang membantu menyiapkan banca’ak dan bubur merah-putih. Banca’an yang berupa nasi gudangan dan dilengkapi telur rebus dan buah pisang di bagi-bagikan pada anak-anak, sedangakan bubur merah-putih itu sebagian diletakkan di kamar si bayi dan sebagian lagi diletakkan di dekat ari-ari yang dikebumikan. Beberapa hari kemudian kami juga mengirimkan paket makanan kotak ala kadarnya kepada para tetangga, sekedar ucapan terimasih dan mohon doa restu untuk si anak tersebut.
Menurut kalender Cina, Anak kedua kami ini lahir pada tahun Ayam dengan unsur Air. Jadi Shionya Ayam Air. Sementara secara Astrologi, bintangnya Aquarius, Air juga. Itulah yang kemudian menginspirasiku untuk menamainya Hydra, Lengkapnya Re Hydra Al klautsar. Al Kautsar itu diambil dari judul salah satu surat pendek dalam Al Quran, yang berarti “limpahan kebahagiaan”.
| |