Posted by aant on Jun 7, '07 2:52 AM for everyone
"Kok dongengnya beda dengan yang di buku?", tanya Divka (5 th) ketika menonton sinetron “Dongeng” episode “Putri Salju” yang ditayangkan di Trans TV beberapa waktu lalu.
“Bedanya apa?”, aku malah balik bertanya.
“Ceritanya bukan pada jaman dahulu kala…” jawab Divka.
Sekilas aku memperhatikan layar televisi, mamang cerita sineteron itu diadopsi dari dongeng Putri Salju, tetapi setting dan penokohannya betul-betul jaman sekarang, jauh dari kesan dongeng-dongeng pada umumnya.
“ Kalo bukan 'jaman dulu', emang kenapa ?” tanyaku lagi.
“ Jaman sekarang kan enggak ada Peri dan Kurcaci” jawab Divka.
“Emangnya kalo jaman dulu, Peri dan Kurcaci itu benar-benar ada?” Tanya ku lagi seenaknya.

“Ya enggak tau, namanya juga dongeng, Ayah ki piye tho…” jawab Divka, juga seenaknya.    Aku ketawa sendiri, tapi terpaksa berfikir juga.

Mungkin memang bukan tanpa alasan apabila dongeng-dongeng klasik selalu dimulai dengan “pada jaman dahulu kala”. Artinya hal-hal yang ajaib dan “tidak masuk akal” itu, kalaupun ada, maka itu adalah bagian dari masal lalu, jaman antah barantah yang bahkan “pencipta” dongeng itupun tidak pernah mengalaminya lagi. Dengan begitu ketika membaca atau mendengar dongeng maka orang akan lebih realisitis melihat masa kini. Ada penegasan, seperti yang dikatakan Divka, terserah Kurcaci atau Peri itu ada atau tidak di masal lalu, yang penting jaman sekarang itu tidak ada atau tepatnya tidak relevan lagi untuk dipercaya.

Ketika “jaman dahulu kala’ itu dicabut dari dongeng, dan divisualisasikan pula (sehingga kita tidak lagi sekedar mendengar atau membaca dongeng, tapi menonton dongeng) maka Hal-hal ajaib, tahayul dan tidak masuk akal itu benar-benar dihadirkan dan “dianggap ada” di lingkungan kita di masa kini. Kayaknya ini klop dengan kenyataan bahwa sekarang ini kita memang semakin mudah untuk mempercayai hal-hal yang berbau mistik dan gossip.

“Mungkin juga Kurcaci, Raksasa dan Peri itu masih ada di jaman sekarang, Div”, kataku kemudian, “… tapi hanya ada di dalam tivi”.
Divka berfikir sejenak, lalu mengangguk setuju. Lalu kami sepakat untuk meneruskan nonton tayangan tersebut.

praszzetyo wrote on Jun 29, '07
Kayaknya sekarang ini memang Televisi kit amakin saja menjual mimpi. Dulu sempat senang akhirnya televisi kita dihiasi oleh para Produser dari dalam negeri (apakah dalam negeri benaran atau tidak whio knows, tapi yang jelas banyak pemakin lokal dan juga blesteran dan juga bule2 dikitlah).Tapi rasanya banyak taytangan itu yang ditulis dengan kadar yang sangat memprihatinkan dangkal sekaligus tidak memuat nilai-nilai apapun yang ingin disampaikan kepad anak, remaja maupuj ibu2
Comment deleted at the request of the author.
aantsyah wrote on Jul 5, '07
Kayaknya sekarang ini memang Televisi kit amakin saja menjual mimpi. Dulu sempat senang akhirnya televisi kita dihiasi oleh para Produser dari dalam negeri (apakah dalam negeri benaran atau tidak whio knows, tapi yang jelas banyak pemakin lokal dan juga blesteran dan juga bule2 dikitlah).Tapi rasanya banyak taytangan itu yang ditulis dengan kadar yang sangat memprihatinkan dangkal sekaligus tidak memuat nilai-nilai apapun yang ingin disampaikan kepad anak, remaja maupuj ibu2
Betul sekali Boss.... yang aneh, mereka-mereka yang bikin acara seenaknya, eh kita-kita para orang tua yang "diwajibkan" mendampingi dan menjelaskan pada putra-putri kita tentang siaran itu. memang rusuh nih !
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help