Redyadivka Ariarafa lahir tanggal 21 Februari 2002 di Yogyakarta. Proses kelahirannya dibantu oleh teteh Ured, kakaknya istriku yang juga seorang bidan. Menurut istriku, dia akan lebih merasa tenteram apabila porses melahirkan yang pertama ini ditangani oleh tetehnya sendiri. Aku sih setuju-setuju saja, soal ukuran ketentraman itu memang terserah istriku, lagi pula itung-itung bisa iritlah, “hemat hingga sembilan puluh persen” he he eh.
Sejak usia beberapa bulan, anak pertama kami ini terlihat sangat aktif, hampir tidak pernah diam. Sedang tidurpun selalu menggeliat (ngolet, kata orang jawa) atau menendang-nendang kesana-kemari. Sebagai orang tua yang belum berpengalaman, kami mengkuatirkan hal ini. Oleh karena itu pada usia 1 tahun lebih Divka kami bawa ke bagian tumbuh-kembang anak di RS Sarjito untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan ternyata Divka normal-normal saja, hanya memang tergolong High Activity, jadi bukan Hyperactivity. Gejala Hyperaktiv seperti menghindari kontak mata dan kesulitan berbicara tidak ditemui pada kasus Divka. Kata dokter, untuk anak-anak yang tergolong aktifitas tinggi sebaiknya sering-sering saja diajak ke tempat-tempat yang luas, seperti lapangan sepak bola, dan biarkan dia berekspresi atau melakukan apa saja di sana asal tetap diawasi.
Divka memang sangat suka aktivitas “out dor” dan “treveling”. Di suka mancing dan main laying-layang, atau bersepeda. Padahal, selain bersepada, aktiftias tersebut bukan hobiku sama sekali. Tapi karena harus menemani Divka, lama-lama aku jadi suka juga. Dalam sejarah memancing kami, kami berdua belum pernah mendapat ikan samasekali, tapi kami selalu puas kalau umpan yang kami bawa sudah habis.
Kalu lagi bosan dengan semua kegiatan, sering kali kami berdua cuma putar-putar Jogja dengan sepeda motor.
Kalau diajak jalan-jalan pasti tidak ada capeknya, dan sepanjang perjalanan dia selalu ngoceh mengomentari atau bertanya tentang sesuatu yang dilihat di perjalanan. Divka sudah beberapa kali aku ajak ke luar kota. Kendaraan faforitnya adalah Kereta Api. (pernah dia bilang bercita-cita jadi Mesinis, tetapi sekarang mau jadi pemadam kebakaran). Divka sudah pernah ke Bandung, Semarang, Kediri, dan tentu saja beberapa kali ke rumah neneknya di Subang. Aku sering kewalahan kalau bepergian dengan Divka. Kandang-kadang aku sudah sangat capek atau ngantuk diperjalanan, tetapi Divka tetap saja ngajak ngobrol.